NABI ADAM A.S.
Sebelum Nabi Adam A.S. diciptakan oleh Allah sebagai manusia pertama di muka bumi ini, terlebih dahulu Allah menciptakan langit dan bumi beserta isinya, menciptakan malaikat dari nur (cahaya), dan menciptakan iblis atau jin dari api, sesuai dengan firman Allah:
“Dan sesungguhnya Kami telah meciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.” (QS. Al-Hijr: 26)
Sesudah Nabi Adam tercipta, kemudian Allah memerintahkan kepada seluruh makhluk-Nya untuk bersujud kepadanya. Sujud itu merupakan bentuk penghormatan atas terciptanya Nabi Adam sebagai salah satu makhluk yang paling sempurna di antara makhluk lainnya yang telah diciptakan oleh Allah. Maka mereka pun bersujud, kecuali iblis. Iblis menolak untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah, karena ia menganggap dirinya yang tercipta dari api lebih sempurna daripada Nabi Adam yang tercipta dari tanah. Sifat takabbur (sombong) inilah yang menjadikan penghalang bagi iblis untuk tidak melaksanakan perintah Allah, yang mengakibatkan ia dikutuk dan dikeluarkan dari surga. Atas penolakan iblis yang sangat durhaka itu kemudian Allah berfirman:
“Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina. Maka beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan." (QS. Al-A‘raf: 12-13)
Permintaan iblis tersebut dikabulkan oleh Allah. Ia dan keturunannya diberi hidup sampai hari kiamat untuk menggoda keturunan Nabi Adam. Semenjak itulah hingga hari kiamat nanti, iblis dengan sumpahnya akan menggoda anak cucu Nabi Adam supaya melanggar dan meninggalkan perintah-perintah-Nya. Begitulah sumpah iblis di hadapan Tuhan. Ia dan bala tentaranya akan menyesatkan dan menggelincirkan Nabi Adam dan keturunannya dari jalan yang lurus.
Dan Allah pun mengingatkan kepada manusia sabagai keturunan Nabi Adam untuk tidak mengikuti jejak dan langkah iblis. Bagi mereka yang mengikuti jejak dan langkah iblis kelak pada hari kiamat akan dimasukkan ke dalam neraka Jahanam bersama iblis.
Kepergian iblis dari surga membuat Nabi Adam dirundung kesepian, karena tidak ada teman yang mau diajak bicara dan bercanda tawa untuk melepas lelah dalam hari-harinya. Keadaan demikian itu telah diketahui oleh Allah, maka Allah menciptakan Hawa (ibu seluruh umat manusia) untuk menemaninya. Untuk menciptakan Hawa, terlebih dahulu Allah membuat Nabi Adam tertidur lelap. Dalam tidurnya yang lelap itu, barulah Allah mengambil satu tulang rusuk kirinya dan diganti dengan daging sehingga darinya terciptalah Hawa. Hawa kemudian menjadi istri Nabi Adam dan Ibu seluruh umat manusia.
Saat Nabi Adam terbangun dari tidurnya, ia terperanjak dan kaget melihat di sebelahnya sudah ada perempuan cantik nan menawan yang tak pernah dia kenal sebelumnya. Dengan penuh keheranan dan dibarengi hati yang gemetar, Nabi Adam bertanya, “Siapakah engkau?” Hawa menjawab, ”Aku adalah seorang perempuan yang sengaja diciptakan oleh Allah untuk menemani hidupmu yang kesepian sekaligus sebagai istrimu.” Kehadiran Hawa pun disambut pertanyaan malaikat kepada Adam.
“Hai Adam, siapakah perempuan itu?” tanya malaikat.
“Ini adalah Hawa, seorang perempuan yang menjadi pendampingku dan sekaligus sebagai Ibu umat manusia,” jawab Nabi Adam.
Dari kedua insan inilah nantinya manusia berkembang di jagat raya.
Sudah lengkap rasanya kehidupan ini bagi Nabi Adam, karena kini sudah ada yang mau diajak bicara dan bercanda tawa untuk melepas lelah dalam menjalani hari-harinya, dalam suka maupun duka. Kehadiran Hawa yang cantik dan menawan membuat hati Nabi Adam menjadi lebih tenang dan tentram.
Kemudian Allah memerintahkan kepada Nabi Adam dan Hawa untuk menempati surga, yang di dalamnya telah disediakan beraneka ragam makanan dan buah-buahan yang lezat rasanya. Makanan dan buah-buahan yang beraneka ragam tersebut semuanya boleh dimakan, kecuali buah khuldi. Allah melarang Nabi Adam dan Hawa untuk mendekati pohon khuldi, apalagi sampai memakan buahnya. Apabila mereka melanggar larangan ini, maka keduanya akan menjadi orang yang tersesat sebab melanggar larangan Allah. Dan sebagai akibat pelanggaran ini adalah harus menanggung siksaan yang sangat pedih.
Pembicaraan antara Allah, Adam, dan Hawa didengar oleh iblis. Iblis yang tidak rela keluar dari surga hanya karena menolak perintah Allah untuk bersujud (memberi hormat) kepada Nabi Adam ini kemudian mengatur siasat dan cara untuk menggoda Nabi Adam dan Hawa agar mendekati pohon dan memakan buah yang dilarang oleh Allah itu. Sebab, apabila Nabi Adam dan Hawa memakan buah tersebut niscaya keduanya akan dikeluarkan dari surga.
Dengan berbekal kata-kata hasutan yang manis dan indah, serta tipu daya yang licik, iblis mulai menemui Nabi Adam dan Hawa untuk membuat perhitungan. Berkenaan dengan kejadian tersebut Al-Qur’an menjelaskan:
“Iblis tidak pernah putus asa dan lelah dalam memperdaya Adam dan Hawa agar keduanya melanggar larangan Allah, yaitu memakan buah khuldi. Begitu manisnya bujuk rayu iblis kepada Adam dan Hawa, yang membuat keduanya pun terpikat oleh rayuan iblis, yakni memakan buah khuldi. Akhirnya mereka berdua melanggar larangan Allah.” (QS. Al-A’raf: 19-21)
Sebab pelanggaran tersebut, Nabi Adam dan Hawa menerima balasan dari Allah, yaitu dikeluarkan dari surga dan diturunkan ke bumi dan di bumi itu nantinya Nabi Adam dan Hawa beserta keturunannya akan mengalami permusuhan satu sama lain. Begitulah balasan yang diterima oleh Nabi Adam dan Hawa akibat menuruti perintah iblis untuk mendekati dan memakan buah khuldi yang merupakan larangan Allah.
Nabi Adam, Hawa, dan anak cucunya yang menjadi penghuni bumi dituntut untuk memakmurkan, menikmati dan menggenggam kenikmatan yang terbatas sampai ajal menjemput mereka.
Nabi Adam dan Hawa merasa menyesal setelah melanggar perintah Allah untuk tidak mendekati dan memakan buah khuldi, kemudian mereka bertaubat, dan Allah menerima taubat mereka. Allah mengampuni keduanya. Sungguh, Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
Selama Nabi Adam dan Hawa turun ke bumi, mereka mengalami hidup yang penuh resiko dan tanggung jawab. Mereka harus mengeluarkan tenaga setiap menginginkan sesuatu. Di saat lapar dan demi memenuhi kebutuhan makanan maka mereka harus menanam padi, jagung, dan sebagainya. Kalau menginginkan pakaian, harus menanam kapas dan kapuk. Di bumi, Nabi Adam A.S dan Hawa mulai bekerja keras, bercocok tanam, berternak, menggali saluran air, dan semua aktivitas yang berhubungan dengan kehidupan mereka berdua. Iblis yang sudah bersumpah menggoda Nabi Adam dan Hawa serta anak cucunya menjadi musuh utama baginya dalam mengarungi kehidupan di muka bumi ini.
Tidak lama kemudian, Hawa mengandung sebagaimana layaknya perempuan. Setiap melahirkan anak, ia dianugerahi anak kembar, yaitu satu laki-laki dan satu perempuan. Kelahiran pertama kembar, laki-laki dan perempuan, bernama Qobil (sebagai kakak) dan yang perempuan Iqlima. Kemudian di tahun berikutnya Hawa hamil dan melahirkan kembar lagi, maka lahirlah Habil dan Labudza.
Nabi Adam dan Hawa mengajari anak-anaknya untuk menjalani kehidupan. Mereka berdua mengajari anak-anaknya cara mengembangkan peternakan, bertani, dan lain-lain, sebagaimana dulu ayahnya pertama kali menginjakkan kaki di muka bumi. Sampai mereka itu bisa mengerjakan sesuatu dengan mandiri.
Kehidupan Nabi Adam dan Hawa kini dalam keadaan makmur. Sebagai wujud syukur kepada Allah atas kemakmuran yang telah diterima keluarga, Nabi Adam memerintahkan kedua anaknya, Qobil dan Habil, untuk mempersembahkan dari sebagian penghasilan mereka ke puncak gunung agar dapat dimakan dan dinikmati oleh makhluk-makhluk Allah yang tidak pandai bercocok tanam. Perintah Nabi Adam kepada anak-anaknya ini dinamakan dengan berkurban; berzakat dan beribadah.
Habil yang mempunyai perasaan halus dan sifat yang baik dan bagus, melaksanakan perintah ayahnya dengan memilihkan barang yang baik untuk dikurbankan sebagai bukti syukur kepada Allah. Adapun Qobil (kakak Habil) yang mempunyai perangai kasar dan perilaku kejam, sangat perhitungan terhadap harta kekayaan yang dimilikinya. Ia memilihkan harta yang paling jelek dan kambing yang sangat kurus sebagai kurbannya. Iblis mendapat peluang dan angin segar untuk membujuk dan merayu Qobil sebagai keturunan Nabi Adam agar terjerumus ke dalam lembah kemaksiatan dan kejahatan. Digodanya Qobil melalui harta kekayaan yang dimilikinya.
Habil mengumpulkan barang-barang yang baik; kambing yang gemuk dan sehat, buah-buahan yang segar agar binatang yang memakannya nanti bisa merasakan kenikmatan dan kelezatannya. Sedangkan Qobil mengumpulkan barang kurban yang jelek; buah-buahan yang busuk, kambing yang kurus dan tidak sehat. Kemudian keduanya meletakkan barang persembahan kurban masing-masing di puncak gunung. Apabila kurban yang dikeluarkan habis dimakan binatang, itu pertanda bahwa kurbannya telah diterima oleh Allah. Dan bagi kurban yang masih tertinggal karena tidak ada yang memakannya, maka pertanda bahwa kurbannya tidak diterima.
Ternyata, kurban Habil yang diterima oleh Allah. Habil gembira dan bersyukur kepada Allah karena kurbannya diterima, sedangkan Qabil menjadi marah dan iri hati kepada Habil karena kurbannya ditolak oleh Allah. Kurban Habil diterima karena didasari atas rasa ikhlas dan tulus. Sedangkan kurban Qabil tidak diterima oleh Allah karena tidak didasari dengan rasa tulus dan ikhlas dalam mempersembahkannya.
Belum hilang kebencian Qabil kepada Habil, selang beberapa tahun timbul masalah lagi yang membuat kedengkian Qabil kepada Habil semakin memuncak karena Nabi Adam menjodohkan Qabil dengan adik Habil yang tidak begitu cantik, yaitu Labudza, sedangkan Habil dijodohkan dengan adik Qabil, Iqlimah, yang lebih cantik dibanding Labudza. Karena menurut ketentuan syari’at Allah ketika itu anak kembar tidak boleh dijodohkan dengan kembarannya.
Kemarahan, kebencian, dan iri hati yang sangat mendalam kepada Habil, membuat Qobil merencanakan niat jahat untuk membunuh adiknya itu. Rencana Qobil dapat terlaksana dengan baik. Perbuatan Qobil membunuh Habil tersebut menambah kegembiraan iblis, karena usaha iblis untuk menjerumuskan Qobil berbuat jahat telah berhasil dengan sukses.
Qobil menguburkan mayat adiknya tersebut. Setelah itu, Qobil tidak pulang ke rumah, tapi mengembara tanpa tujuan yang jelas. Dengan kematian Habil dan kepergian Qobil, maka Nabi Adam kehilangan kedua anak laki-lakinya.
Yang menyebabkan tingkah laku Nabi Adam, Hawa, dan kedua anaknya melanggar larangan Allah adalah iblis. Janji iblis untuk menggoda keturunan Nabi Adam dan Hawa akan berlaku hingga kiamat tiba. Oleh sebab itu, kita harus selalu waspada terhadap bujuk rayu setan dan iblis yang hanya akan menjerumuskan kita ke dalam kehancuran. Sebab, iblis adalah musuh besar kita yang harus kita lawan dan jauhi dengan cara senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, menjauhi segala larangan dan menjalankan segala perintah-Nya.