Hamba-hamba Allah yang bertaqwa tidak akan berpura-pura dalam ibadahnya kepada-Nya, mereka beribadah dengan zahir dan batin tanpa disertai kepura-puraan, tetapi kaum munafik justru sebaliknya, mereka beribadah kepada Allah hanya berpura-pura dan mereka tidak akan dapat memasuki gerbang kedamaian di dunia dan di akhirat selama mereka lari dari jalan yang diridhai-Nya.
Wahai saudaraku, janganlah engkau melakukan puasa dan shalat hanya karena makhluk, jangan pula engkau zakat dan haji karena makhluk. Jika ibadahmu bukan karena Allah ta’ala semata, maka engkau pasti akan celaka. Sebentar lagi engkau akan memasuki api yang sangat panas (neraka) jika engkau tidak segera memperbaiki diri, bertobat, dan memohon ampun kepada-Nya. Berjalanlah dengan mengikuti sunnah Nabi tanpa melakukan kepura-puraan, amalkanlah ajaran Islam dan tidak melakukan bid’ah yang sesat, berjalanlah lurus tanpa melakukan tasybih (penyerupaan terhadap Allah dengan sesuatu yang lain) dan kerakusan. Jika hal ini kamu lakukan, maka kamu pasti akan mendapat kemudahan sebagaimana orang-orang sebelum kamu.
Celakalah kamu, kamu menghafalkan al-Qur’an namun tidak mengamalkannya, kamu mempelajari sunnah Nabi namun tidak mengamalkannya pula, lalu untuk apa semua itu kamu lakukan. Janganlah kamu mengajak orang lain beriman, sementara kamu sendiri tidak beriman. Amalkanlah al-Qur’an sesuai dengan ketetapan-Nya, dan jalankanlah sunnah Nabi sesuai perintahnya, maka engkau akan dapat dekat dengan-Nya.
Iman adalah melawan berbagai musibah, bersabar memikul beban berat, dan memerangi kebatilan. Iman adalah mendermakan dunia yang dimiliki hanya karena Allah, bukan karena makhluk. Wahai saudaraku, jika engkau kehilangan pintu-Nya, maka engkau akan duduk di pintu mahkluk. Ketika Allah subhanahu wa ta’ala menutup pintu makhluk yang ada di depanmu dan memutuskan rezekimu melalui pintu mahkluk tersebut, maka engkau adalah orang-orang yang celaka, sementara pintu-Nya akan dibukakan kembali untukmu sampai engkau benar-benar kembali kepada-Nya.
Jadikanlah diam menjadi kebiasaanmu, bersikap bodoh menjadi pakaianmu, dan lari dari mahkluk menjadi tujuanmu. Jadikan semua ini menjadi kebiasaanmu sampai imanmu menjadi baik, keyakinanmu kuat, sayap kejujuranmu berbulu, dan matahatimu terbuka, maka ketika itu kamu dapat terbang menuju cakrawala ilmu-Nya, kamu dapat berputar-putar mengitari langit dan bumi bersama Sang Pemberi petunjuk yang menjaga dan menemanimu, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala.
Ketika iman dan matahatimu telah terbuka dan engkau adalah mahkluk pilihan Allah, maka engkau adalah obat bagi manusia yang sakit, penyejuk bagi orang-orang yang selama ini haus, penolong bagi mereka yang buta, dan engkau menjadi penuntun mereka menuju jalan-Nya.
Wahai saudaraku, perbaguslah akhlakmu dengan mendekatkan hatimu kepada Allah, karena jika hatimu jauh dari-Nya, maka engkau pasti bersikap buruk di hadapan-Nya dan engkau tidak akan mendapatkan kebahagiaan sampai hatimu benar-benar kembali kepada-Nya. Wahai saudaraku, sampai kapan kamu akan membangun dunia dengan menghancurkan akhirat, ketahuilah bahwa harta yang kamu miliki di dunia ini adalah titipan-Nya kepadamu, maka beramalah kamu dengan harta-Nya dan tolonglah mereka yang miskin dengan kekayaan yang dititipkan-Nya kepadamu.
Wahai saudaraku, jika kamu menginginkan dada yang lapang dan hati yang baik, maka janganlah kamu mendengarkan makhluk, dan janganlah kamu condong kepada mereka kecuali hanya kepada Allah, bersabarlah kamu atas berbagai cobaan yang ditimpakan kepadamu, sebab ini adalah hal yang biasa Dia lakukan kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih dan tersembunyi. Janganlah engkau lari dari Allah karena ujian yang ditimpakan-Nya kepadamu, sebab Dia mengujimu hanya untuk mengetahui apakah kamu akan kembali lagi kepada-Nya ataukah kamu tetap bersabar dan selalu bersama-Nya.
Wahai saudaraku, jadilah kamu orang yang tetap diam bersama Allah saat datang takdir dan segala perbuatan-Nya sehingga kamu dapat merasakan berbagai kelembutan-Nya menyelimutimu. Tinggalkanlah kepura-puraanmu, karena hikmah Allah tidak akan datang pada hati yang dipenuhi kegelisahan, penentangan dan perlawanan kepada-Nya.
baca selengkapnya dalam buku Buku Menyingkap Tabir Kesejatian Robbani
Tidak ada komentar:
Posting Komentar